Jateng & DIY Kedu

Melihat Kampung Sangkar Burung di Purworejo

Purworejo – Kampung sangkar burung di Purworejo, Jawa Tengah, sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Mayoritas penduduk di kampung itu memiliki keahlian membuat berbagai sangkar burung yang telah diwariskan turun-temurun.

Sentra pembuatan sangkar burung tersebut terletak di Desa Wirun, Kecamatan Kutoarjo. Mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari hasil penjualaan sangkar burung tersebut.

Salah satu pengrajin sangkar burung, Samidi (34) kepada detikcom mengaku telah menekuni pembuatan sangkar burung lebih dari 18 tahun. Ilmu itu ia dapat dari ayahnya yang juga seorang pengrajin.

“Ya sudah sekitar 18 tahunan lah, belajar dari bapak saya. Dulu bapak saya juga belajar dari simbah,” katanya, Sabtu (16/12/2017) sambil melakukan proses finishing sangkar burung di rumahnya.

Dalam sehari, rata-rata ia mampu membuat sangkar yang berbahan dasar dari bambu itu sebanyak 3 buah. Sangkar khusus burung derkuku dan perkutut yang ia buat dijual dengan harga 65 ribu hingga 70 ribu. Hasil karyanya itu tidak hanya dijual di Purworejo namum juga dipasarkan ke luar kota seperti Temanggung, Magelang, Wonosobo, Yogkarta dan Kebumen.

“Harganya rata-rata 65 ribu sampai 70 ribu, tapi kalau ada pedagang yang ambil ya harganya di bawah itu. Pasarannya ya Purworejo dan sekitarnya seperti Temanggung, Magelang, Wonosobo, Yogya, dan Kebumen,” imbuhnya.

Sementara itu, Naim Sugiyanyo (34) salah satu pengrajin sangkar khusus untuk burung kicau menuturkan ada beberapa kendala dalam proses pembuatan sangkar yang ia tekuni sejak 19 tahun lalu. Sangkar yang dibanderol dengan harga 100 ribu hingga 250 ribu itu lebih sulit proses pembuatannya dibandingkan dengan sangkar yang lain.


“Lebih sulit mas, 1 sangkar prosesnya bisa 3 atau 4 hari. Yang bikin lama itu karena alatnya manual semua mulai dari pengeboran sampai pembuatan jari-jari. Dibor kadang menceng dan jari-jarinya dibuat secara manual tidak pakai mesin,” kata Naim, Jumat (15/12/2017) di sela-sela proses pembuatan sangkar.

Bambu yang dibeli dengan harga 12 ribu per batang harus dibelah dan diproses secara manual hingga menjadi sebuah sangkar. Naim bersama warga lain berharap pemerintah bisa memberikan bantuan modal dan peralatan yang lebih modern sehingga bisa memajukan desa itu yang telah menjadi sentra pembuatan sangkar burung di Purworejo.

“Dari bambu utuh terus dibelah secara manual hingga menjadi jari-jari kemudian dibentuk jadi sangkar, itu yang bikin lama. Kadang pesenan sudah antre tapi barang belum jadi. Kalau ada mesinnya kan bisa lebih cepat dan kami tidak kewalahan melayani pembeli,” tutupnya.

 

Sumber : Detik.Com

gambar di artkel ini hak cipta dimiliki detik.com