Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Siswi MTs di Kejajar Wonosobo Jadi Korban Perundungan, Video Viral di Medsos
Wonosobo

Siswi MTs di Kejajar Wonosobo Jadi Korban Perundungan, Video Viral di Medsos — Kasus Ditangani Unit PPA Polres

Dunia pendidikan di Kabupaten Wonosobo kembali tercoreng setelah sebuah video kekerasan yang melibatkan siswi MTs di Kecamatan Kejajar viral di media sosial. Korban yang masih duduk di kelas 9 tersebut mengalami makian kasar, kekerasan fisik, hingga dipaksa memakan pisang oleh sekelompok pelajar dari berbagai sekolah pada Rabu (11/3/2026).

Kasus ini kini telah ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Wonosobo.

Siswi MTs di Kejajar Wonosobo Jadi Korban Perundungan, Video Viral di Medsos
Siswi MTs di Kejajar Wonosobo Jadi Korban Perundungan, Video Viral di Medsos

Berawal dari Saling Sindir di Instagram

Kepala MTs Ma’arif NU Kejajar, Alfiah, menjelaskan bahwa konflik bermula dari unggahan sindiran di Instagram yang melibatkan beberapa siswa. Korban dan teman dekat salah satu pelaku kerap saling sindir di media sosial hingga memicu emosi.

“Korban dan teman dekat pelaku itu sering sindir-sindiran di IG, dan pelaku tidak terima,” ujar Alfiah, Kamis (12/3/2026).

Perselisihan di dunia maya tersebut akhirnya berbuntut pada aksi kekerasan di dunia nyata.

Korban Dibawa ke GOR, Dipukul dan Dimaki

Pada hari kejadian, sebagian siswa telah dipulangkan lebih awal setelah kegiatan ujian. Namun sejumlah siswa diduga kembali berkumpul di sekitar sekolah. Di depan gerbang sekolah sempat terlihat kerumunan siswa dari beberapa sekolah di wilayah Kejajar.

Para pelaku kemudian membawa korban ke lokasi lain di luar sekolah, yakni di area GOR dan lapangan kelurahan setempat. Di sinilah peristiwa kekerasan terjadi. Dalam video yang beredar, tampak sekitar empat orang memaki korban dengan bahasa daerah bernada tinggi, menarik, dan memukul korban yang telah memohon agar tidak diserang secara fisik. Salah satu pelaku bahkan terlihat merekam kejadian tersebut. Dalam video lain, korban diduga dipaksa memakan pisang oleh para pelaku.

Alfiah menyebut insiden ini melibatkan sejumlah siswa dari beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Kejajar. “Kalau menurut informasi itu ada yang menghitung itu 11, tapi yang sudah saya terima hanya 8 anak,” katanya.

Salah satu pelaku berasal dari MTs Kejajar kelas 8, yang seharusnya sudah pulang sejak pukul 10.00 WIB. Sementara kejadian berlangsung sekitar pukul 12.00–12.30 WIB. “Yang saya sayangkan anak kelas 8 itu seharusnya sudah pulang dari jam 10.00, tapi kejadiannya sekitar jam 12.00 sampai 12.30,” ujarnya.

Korban Masih Masuk Sekolah, Didampingi Guru

Meski menjadi korban kekerasan, kondisi korban dilaporkan baik dan tetap masuk sekolah keesokan harinya. Pihak sekolah memastikan korban terus mendapat pendampingan dari guru.

“Kondisi korban baik, Alhamdulillah tadi juga tetap masuk sekolah,” ujar Alfiah. Ia menegaskan pihak sekolah terus memfasilitasi dan mendampingi seluruh siswa yang terlibat dalam kejadian tersebut.

Camat Kumpulkan Kepala Sekolah, Polisi Tangani Kasus

Camat Kejajar, Chaerul Anam, langsung mengambil langkah cepat dengan memanggil seluruh kepala SMP, Korwil, dan perwakilan PGRI di wilayah Kejajar untuk membahas peristiwa tersebut.

“Tadi pagi saya kumpulkan dari semua kepala SMP, Korwil, sampai dari PGRI, tak kumpulkan di sini,” kata Chaerul.

Setelah kasus ditangani kepolisian, pihak kecamatan kini fokus mendampingi para siswa yang terlibat agar tidak mengalami tekanan psikologis. “Saya suruh dari masing-masing kepala sekolah mendampingi anak yang dipanggil dengan orang tuanya, biar anak tidak trauma,” katanya.

Kapolsek Kejajar, Kompol Abror, membenarkan bahwa kasus ini tengah dalam penanganan aparat. “Infonya seperti itu, kasus ini sedang ditangani Unit PPA Polres Wonosobo,” ujarnya.

Kasus ini menjadi pengingat serius bagi semua pihak — sekolah, orang tua, dan masyarakat — untuk lebih waspada terhadap potensi konflik yang bermula dari interaksi di media sosial, dan memastikan lingkungan sekolah menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik.

error: Content is protected !!