Tanggapi Kritik Netizen Soal Balon Udara Politis, Pemkab Wonosobo Tegaskan Tunas Bumi Fest 2026 Acara Mandiri
Kehebohan terkait penerbangan balon udara bernuansa politis yang menampilkan gambar program Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (9/8/2026) lalu memicu gelombang kritik dari warganet. Menanggapi polemik yang meramaikan ruang publik tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo akhirnya memberikan klarifikasi resmi.

melalui keterangan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, Pemkab menegaskan bahwa acara tersebut sepenuhnya terpisah dari agenda resmi peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.
“Yang pertama, kegiatan kemarin adalah kegiatan yang terpisah dari kegiatan rangkaian Hari Jadi Wonosobo,” ujar Andang, Rabu (12/8/2026).
4 Poin Tegas Klarifikasi Pemkab Wonosobo
Mengutip dari unggahan klarifikasi tertulis Pemkab Wonosobo di media sosial resmi Pemkab pada Kamis (13/8/2026), terdapat empat poin krusial yang ditegaskan ke publik:
-
Acara Mandiri: Acara bertajuk Tunas Bumi Fest 2026 memiliki identitas serta penyelenggaraan tersendiri.
-
Bukan Rangkaian Hari Jadi: Kegiatan tersebut sama sekali bukan bagian dari agenda resmi HUT ke-201 Kabupaten Wonosobo.
-
Nir-APBD: Seluruh pendanaan kegiatan menjadi tanggung jawab penuh panitia penyelenggara tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
-
Respon Terbuka: Pemkab mengapresiasi segala masukan dan kritik masyarakat sebagai bahan evaluasi.
Evaluasi SOP dan Wacana Regulasi Motif Balon Udara
Maraknya tanggapan warganet dijadikan pijakan oleh Pemkab Wonosobo untuk membenahi tata kelola tradisi balon udara, terlebih statusnya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan.
Pemkab kini tengah menggodok regulasi baru berupa Peraturan Bupati (Perbup) atau Peraturan Daerah (Perda) guna mengatur Standar Operasional Prosedur (SOP) penerbangan, perizinan, hingga batasan motif visual pada badan balon.
“Terhadap netizen yang kemarin memberikan saran, masukan, kritikan dan sebagainya, saya berterima kasih. Ini bagian dari evaluasi kami terhadap SOP,” tegas Andang.
Kendati demikian, Andang menyebut penyusunan aturan motif akan dilakukan secara cermat agar tidak membelenggu kreativitas perajin. Ia mengingatkan bahwa keberagaman gambar tokoh maupun logo promosi di badan balon udara sebenarnya sudah berlangsung lama di Wonosobo.
“Dulu ada yang batik, kemudian dulu pernah ada yang menampilkan fotonya Pak Ganjar, Soekarno, Pak Jokowi, hingga Mbah Muntaha. Bahkan juga promosi kaya AirNav, Bank Jateng, Aqua, banyak sekali,” beber Andang mengenai riwayat motif balon udara.
Komitmen Merawat Marwah Kebudayaan Wonosobo
Di akhir keterangannya, Pemkab Wonosobo menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kebudayaan lokal. Pemkab berkomitmen untuk terus menjaga ruang publik yang netral, inklusif, serta kondusif bagi pariwisata daerah.
“Pemerintah Kabupaten Wonosobo senantiasa berkomitmen untuk menjaga ruang publik, melestarikan kebudayaan, serta mendorong penyelenggaraan kegiatan yang bermanfaat luas bagi Masyarakat. Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi,” tutup keterangan Pemkab Wonosobo.




