Bangkit dari Trauma Bullying, Anak Tunanetra di Wonosobo Kembali Raih Bangku Sekolah Lewat Sekolah Rakyat
Harapan untuk meraih cita-cita kini kembali bersemi bagi Ilham Muharra Saputra (12), warga Kelurahan Wonosobo Timur, Kabupaten Wonosobo. Setelah sempat bertahun-tahun berhenti sekolah akibat trauma perundungan (bullying), Ilham akhirnya kembali mengenyam pendidikan melalui program Sekolah Rakyat di Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek.

Mulai akhir Juli 2026, Ilham resmi terdaftar mengikuti pendidikan dasar dan menetap di asrama Sekolah Rakyat. Kepastian ini disambut haru dan lega oleh kedua orang tuanya, pasangan Dasril dan Umu Latifah, yang tak kenal lelah membujuk sang putra bungsu agar mau kembali belajar.
Trauma Di-bully Karena Kondisi Orang Tua
Umu Latifah menuturkan, Ilham sejatinya merupakan anak yang rajin dan berprestasi. Namun, peristiwa pahit saat masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD) mengubah segalanya.
Ilham kerap menjadi sasaran ejekan teman-teman sebayanya karena kondisi fisik kedua orang tuanya yang merupakan penyandang tunanetra. Cemoohan yang diterima secara terus-menerus mendalamkan rasa trauma psikologis hingga membuat Ilham enggan melangkahkan kaki ke sekolah.
“Awalnya anaknya rajin dan nilainya bagus. Tetapi dia mudah tersinggung. Teman-temannya sering meledek kondisi orang tuanya yang tunanetra, sampai akhirnya dia tidak mau masuk sekolah lagi,” ungkap Umu Latifah pada Kamis (30/7/2026).
Pascakejadian tersebut, Ilham sempat pindah sekolah saat keluarganya bertolak ke Jakarta sebelum akhirnya kembali lagi ke Wonosobo. Kendati demikian, luka trauma masa lalu membuat semangat belajarnya padam. Butuh pendekatan emosional yang panjang dari sang ibu untuk perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.
Perubahan positif mulai terpancar saat proses pendaftaran Sekolah Rakyat dimulai. Ilham yang dulunya trauma kini justru antusias menanyakan jadwal keberangkatan dan menyiapkan sendiri kebutuhan sekolahnya.
Meringankan Beban Ekonomi dan Solusi Pendidikan Efektif
Keberadaan Sekolah Rakyat yang diusung pemerintah menjadi angin segar bagi anak-anak rentan putus sekolah. Selain menyajikan pendidikan formal, fasilitas asrama berbasis komunitas tepercaya ini dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang teratur, kondusif, dan bebas dari perundungan.
Di sisi lain, hadirnya program ini amat membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Ayah dan ibu Ilham menggantungkan hidup dari jasa pijat netra dengan pendapatan yang tidak menentu.
“Kalau di rumah tarifnya Rp60 ribu, panggilan Rp100 ribu. Sekarang orderan sedang sepi, jadi sekolah ini sangat membantu,” tambah Umu.
Harapan Orang Tua: Sekolah yang Ramah dan Aman
Bagi sang ayah, Dasril, bisa terbebas dari beban biaya pendidikan memang disyukuri. Namun di atas semua itu, keselamatan jiwa dan kenyamanan psikologis sang anak adalah prioritas utama.
“Kami berharap Ilham betah di sekolah barunya, gurunya bisa memahami karakter dia yang agak sensitif, dan tidak mengalami hal-hal yang membuatnya trauma lagi,” harap Dasril.
Kisah Ilham menjadi pengingat penting bagi publik tentang dampak buruk bullying di lingkungan sekolah, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam menggapai masa depan yang cerah.




