Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Desa Karangsari Wonosobo Rintis Usaha Wood Pellet
Wonosobo

Ubah 22 Ton Limbah Kayu Per Hari Jadi Wood Pellet, UMY dan BUMDes Karangsari Dorong Kemandirian Energi Desa

Desa Karangsari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan kayu skala kecil-menengah. Keberadaan 18 pabrik penggergajian di desa ini menjadi nadi perekonomian warga, namun di sisi lain menyisakan persoalan lingkungan yang pelik: menumpuknya limbah serbuk gergaji dan potongan kayu hingga 22 ton setiap hari.

Desa Karangsari Wonosobo Rintis Usaha Wood Pellet
Desa Karangsari Wonosobo Rintis Usaha Wood Pellet

Selama bertahun-tahun, limbah tersebut sebagian besar hanya dibakar, ditimbun, atau dibiarkan membusuk. Namun, paradigma tersebut kini mulai bergeser. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berkolaborasi dengan BUMDes Mutiara Karangsari meluncurkan program pemberdayaan kemitraan berbasis teknologi tepat guna untuk mengolah limbah kayu menjadi pelet biomassa (wood pellet).

Inovasi Sains dan Hibah Teknologi Tepat Guna

Dalam sosialisasi yang digelar di Balai Desa Karangsari pada Minggu (23/8/2026), Ketua Tim Pengabdian UMY, Dr. Aris Slamet Widodo, memaparkan bahwa limbah kayu memiliki nilai kalor tinggi dan sangat potensial sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

“Bahan baku ini melimpah, kontinu, dan selama ini hanya menjadi masalah. Dengan teknologi pencacah dan pencetak pelet, kita bisa mengubahnya menjadi produk yang bisa dijual, baik untuk pasar lokal maupun industri,” ujar Aris di hadapan perangkat desa, pengelola BUMDes, dan perwakilan pemilik penggergajian.

Guna mendukung keberlanjutan program, tim UMY mengelolakan dan menghibahkan dua alat utama kepada BUMDes Mutiara Karangsari, yakni:

  1. Wood Chipper (Mesin Pencacah Kayu): Mengolah potongan limbah kayu menjadi serpihan berukuran seragam.

  2. Mesin Cetak Wood Pellet: Mengubah serpihan kering menjadi pelet biomassa padat berkepadatan energi tinggi.

Alur produksi dirancang secara sistematis melalui lima tahapan: pemilahan, pencacahan, pengeringan sederhana, pencetakan, hingga pengemasan yang seluruhnya dipusatkan di lokasi produksi kelolaan BUMDes.

Rekonstruksi Sosiologi Lingkungan dan Kemandirian Energi

Program ini tidak hanya mentransfer teknologi, tetapi juga menyentuh aspek tata kelola kelembagaan, penyusunan Standard Operating Procedure (SOP), pelatihan keselamatan kerja, hingga manajemen keuangan usaha BUMDes.

Sosiolog UMY yang mengampu mata kuliah Sosiologi Lingkungan, Puji Qomariyah, menilai langkah ini sebagai wujud rekonstruksi sosial dan demokratisasi energi di tingkat tapak.

“Ketika kita mengolah limbah menjadi pelet, kita sedang melakukan rekonstruksi sosial: mengubah pola pikir dari buang menjadi kelola, dari beban menjadi berkah. Wood pellet adalah energi yang diproduksi oleh desa, untuk desa. Ini mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” terang Puji.

Komitmen Pemerintah Desa dan BUMDes Mutiara Karangsari

Kepala Desa Karangsari, Edi Sucipto, menyambut baik intervensi UMY yang dinilai menjadi solusi konkret atas persoalan lingkungan yang telah mengendap puluhan tahun.

“Kami memiliki 18 pabrik kayu, tetapi limbahnya tak pernah terkelola. Kami berterima kasih kepada UMY yang tidak hanya datang dengan teori, tapi dengan alat nyata dan pendampingan terukur,” kata Edi Sucipto.

Senada dengan hal tersebut, Ketua BUMDes Mutiara Karangsari, Edi Sutiyoso, menegaskan kesiapan lembaganya dalam mengelola unit usaha baru ini secara transparan dan profesional. Pihaknya telah menyiapkan lahan produksi serta membangun komitmen pasokan bahan baku dengan para pemilik penggergajian.

“Kami tidak mau hanya menjadi penerima hibah, tapi ingin menjadi pengelola mandiri. Kami akan memastikan setiap tahap produksi tercatat, alat dirawat, dan keuntungan dikembalikan untuk pengembangan desa,” tegas Edi Sutiyoso.

Melalui pendampingan intensif dari UMY, Desa Karangsari kini bersiap menatap babak baru: meredam emisi pembakaran limbah, menciptakan produk bernilai tambah, serta mengukuhkan diri sebagai desa produsen energi terbarukan yang mandiri dan berdaulat.

error: Content is protected !!