Degradasi ekosistem di kawasan hulu Dieng kembali menunjukkan dampak serius. Hujan intensitas tinggi yang berlangsung selama dua hari berturut-turut memicu longsor besar di kawasan perbukitan sebelah utara Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Peristiwa yang terjadi pada Jumat (24/1/2026) ini menimbun lahan pertanian seluas 1,5 hektare.
Kronologi Longsor di Patakbanteng
Longsor bermula dari kawasan perbukitan Desa Patakbanteng yang mengalami pergerakan tanah akibat hujan ekstrem. Material tanah terbawa aliran air melalui sungai kecil yang bermuara ke Sungai Serayu. Endapan longsor kemudian melebar dan menutup area pertanian sayuran milik warga.
Camat Kejajar Khoirul Anam menjelaskan bahwa hujan ekstrem sejak Jumat hingga Sabtu menjadi pemicu utama bencana ini. “Longsoran dari bukit utara Desa Tieng terbawa air lewat sungai kecil, lalu melebar dan masuk ke lahan sayuran sampai bawah,” ungkapnya saat dikonfirmasi Senin (26/1/2026).
Kerugian Material dan Upaya Pemulihan
Peristiwa longsor ini berdampak pada lahan pertanian sayuran produktif milik warga setempat. Beruntung, lokasi kejadian berada jauh dari pemukiman sehingga tidak ada korban jiwa.
Warga telah melakukan gotong royong untuk memperbaiki saluran air guna mencegah perluasan dampak. “Tadi masyarakat sudah gotong royong di lokasi untuk membetulkan saluran airnya,” kata Khoirul.
Hingga saat ini, pemerintah kecamatan bersama pihak terkait masih melakukan pendataan nilai kerugian sambil terus memantau kondisi lapangan mengingat potensi cuaca ekstrem masih berlanjut.
Alih Fungsi Lahan: Akar Masalah Kerentanan Longsor
Khoirul menyoroti kondisi tutupan lahan di kawasan perbukitan yang kini didominasi tanaman sayuran. Minimnya tanaman keras dinilai meningkatkan kerentanan lereng terhadap longsor, khususnya saat hujan ekstrem.
“Di atas sekarang mayoritas tanaman sayuran. Kalau hujan ekstrem seperti ini, potensi longsor memang besar karena tanaman kerasnya berkurang,” jelasnya.
Alih fungsi lahan yang berlangsung masif selama bertahun-tahun telah mengubah wajah kawasan hulu Dieng. Konversi lahan hutan dan area dengan vegetasi permanen menjadi lahan pertanian sayuran telah melemahkan fungsi ekosistem sebagai penyangga dan penyerap air.
Dampak Ekologis Alih Fungsi Lahan di Dieng
Perubahan tata guna lahan di kawasan Dieng membawa konsekuensi serius:
Berkurangnya daya serap tanah. Tanaman sayuran memiliki sistem perakaran dangkal yang tidak mampu menahan struktur tanah dengan baik, berbeda dengan tanaman keras atau hutan yang memiliki akar kuat dan dalam.
Erosi dan sedimentasi. Material tanah yang tererosi tidak hanya merusak lahan pertanian di sekitarnya, tetapi juga terbawa ke Sungai Serayu, meningkatkan potensi pendangkalan dan banjir di hilir.
Hilangnya biodiversitas. Ekosistem alami Dieng yang kaya akan flora dan fauna endemik semakin tergerus seiring ekspansi lahan pertanian.
Urgensi Pengelolaan Lahan Berkelanjutan
Kejadian longsor di Kejajar menjadi peringatan keras tentang pentingnya pengelolaan lahan berkelanjutan di kawasan pegunungan Dieng. Beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan:
Rehabilitasi lahan kritis dengan penanaman pohon keras yang memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi konservasi, seperti pohon kayu atau tanaman agroforestri.
Penerapan sistem pertanian konservasi seperti terasering yang baik, penanaman searah kontur, dan penggunaan mulsa untuk mengurangi erosi.
Penegakan aturan tata ruang untuk membatasi pembukaan lahan baru di kawasan dengan kemiringan tinggi dan area resapan air.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui edukasi dan pendampingan berkelanjutan.
Antisipasi Bencana di Musim Hujan
Dengan kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi, masyarakat di kawasan Dieng perlu meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini dan menyiapkan jalur evakuasi di zona rawan longsor.
Longsor di Kejajar bukan hanya tentang kerugian material 1,5 hektare lahan pertanian, tetapi lebih dari itu merupakan alarm tentang rapuhnya ekosistem Dieng yang memerlukan penanganan komprehensif dan jangka panjang.




