Jembatan Ambrol Akibat Hujan Deras di Wonosobo, Empat Orang Terluka Termasuk Dua Remaja Putri
Hujan deras yang mengguyur Desa Kalikuning, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Selasa (1/2/2026) sore mengakibatkan jembatan penghubung dua dusun ambrol. Empat orang terluka dalam kejadian tersebut, termasuk dua remaja putri yang saat itu tengah melintas mengendarai sepeda motor.
Kepala Dusun Semampir, Wahno, mengungkapkan bahwa kondisi jembatan sebelumnya sudah mengalami keretakan akibat longsor yang terjadi kurang dari setahun lalu. Hujan lebat yang memicu banjir dan erosi akhirnya menjadi penyebab amblasnya struktur jembatan tersebut.

“Kemarin kan di sini hujannya lebat, banjirnya besar, terus karena itu kena erosi, jadi menyebabkan jembatannya ambles,” ujar Wahno saat ditemui di lokasi, Rabu (18/2/2026).
Wahno menjelaskan, jembatan yang terdiri dari bagian lama dan bagian renovasi itu akhirnya runtuh setelah pondasi tidak mampu lagi menahan derasnya arus air. Bagian bawah yang tergerus lebih dulu ambruk, menarik serta seluruh struktur di atasnya. “Yang bawah jatuh, jadi yang atas juga ikut jatuh, semua ambrol itu,” katanya.
Dua Remaja Putri Jadi Korban Utama
Dua remaja perempuan warga Dusun Semampir menjadi korban paling terdampak. Anisa (17) dan Feriyana (18) sedang dalam perjalanan pulang kerja ketika jembatan yang mereka lintasi tiba-tiba ambrol. Keduanya bersama sepeda motor yang dikendarai ikut terjatuh dari ketinggian sekitar 6 meter.
Wahno menyebut, kedua korban tidak menyadari kondisi jembatan yang sudah kritis. “Pas melintas, mereka enggak tahu, itu belum berlubang, masih retak-retak. Dikira enggak bakal jatuh,” katanya.
Anisa mengalami retak tulang dan harus menjalani perawatan intensif, sementara Feriyana mengalami luka ringan. Dua warga lain, Heri (26) dan Walno (36), juga mengalami luka ringan saat berusaha menolong kedua remaja tersebut. Keempat korban telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, sementara sepeda motor berhasil dievakuasi warga.
Kondisi Jembatan Kini Memprihatinkan
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (18/2/2026), jembatan sepanjang 17 meter itu kini ditutup menggunakan papan sederhana yang dipasang warga sebagai penanda darurat. Retakan memanjang terlihat di sisi kanan dan kiri jembatan, sementara di bagian tengah terdapat lubang besar akibat longsor. Aspal jalan tampak ambles ke dalam rongga tanah, dengan sejumlah bagian konstruksi yang patah.
Kondisi kerusakan bahkan terlihat lebih parah jika dipandang dari bawah, tepatnya dari aliran Sungai Banten. Penyangga jembatan tampak patah, dan tanah di tepi sungai dekat pondasi berlubang akibat gerusan arus air. Di lokasi, perangkat desa bersama perwakilan pemerintah daerah terlihat melakukan pengecekan. Sejumlah warga pun bergotong royong memperbaiki sambungan pipa air bersih yang ikut terputus akibat kejadian ini.
Warga Harus Memutar Setengah Jam
Jembatan yang pertama kali dibangun pada era 1990-an dan telah direnovasi dua kali itu merupakan akses vital yang menghubungkan Dusun Ngadiloka, Dusun Semampir, Desa Kalikuning, hingga Desa Lamuk. Jembatan ini menjadi jalur utama warga menuju pasar dan pusat kota Wonosobo.
Dengan ambruknya jembatan tersebut, warga kini terpaksa menggunakan jalur alternatif sejauh sekitar 3 kilometer atau memakan waktu hingga setengah jam perjalanan tambahan. “Paling tidak, ya kita melewati jalur alternatif kurang lebih 3 kilometer,” ujar Wahno.
Selain akses transportasi, aliran air bersih warga juga terganggu karena jaringan pipa yang menumpang pada jembatan ikut terdampak dan masih dalam proses perbaikan.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Wonosobo segera turun tangan untuk memperbaiki jembatan tersebut, agar mobilitas dan roda perekonomian masyarakat dua dusun itu dapat kembali berjalan normal.




