- Homepage
- Jateng DIY
- Deret Hajat Unik DCF 2026: Cerita Kakak Adik Asal Wonosobo yang Minta Kambing di Ruwatan Rambut Gimbal
Deret Hajat Unik DCF 2026: Cerita Kakak Adik Asal Wonosobo yang Minta Kambing di Ruwatan Rambut Gimbal
Sejak fajar menyingsing di pelataran Kompleks Candi Arjuna, Dieng, suasana magis dan khidmat begitu terasa pada Sabtu (29/8/2026). Sebanyak 13 anak berambut gimbal atau anak bajang melakoni prosesi sakral ruwat cukur rambut gimbal yang menjadi puncak sekaligus ikon budaya tahunan Dieng Culture Festival (DCF) 2026.

Mengenakan busana serba putih lengkap dengan ikat kepala bernuansa senada, belasan anak bajang tersebut tampil anggun diarak menggunakan iring-iringan kereta kencana. Ribuan pasang mata wisatawan dari berbagai daerah menyemut di area situs bersejarah demi menyaksikan dari dekat ritual adat menawan ini.
Jamasan Sakral dan Pemenuhan Hajat Unik
Prosesi diawali dengan ritual penyucian atau jamasan menggunakan percikan air suci dari tujuh sumber air pilihan. Setelah prosesi penyucian rampung, pemotongan mahkota rambut gimbal dilaksanakan secara bergantian oleh pemangku adat setempat.
Menariknya, sesuai dengan pakem adat Dieng, helai rambut gimbal tidak boleh dipotong sembarangan. Setiap anak harus mengajukan permintaan atau hajat khusus yang wajib dipenuhi oleh orang tua maupun pihak penyelenggara.
Di antara belasan peserta, perhatian penonton tertuju pada sepasang kakak beradik asal Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, yakni Anindie Cheryl Shaheenna (9) dan Andien Checilia Shaquilla (7). Dua bersaudara yang sama-sama menyandang rambut gimbal ini mengajukan permohonan yang terbilang unik, yaitu hadiah sepasang anak kambing.
“Iya, mereka kakak adik. Masing-masing minta sepasang kambing kecil lanang wadon (jantan dan betina). Jadi total untuk dua anak ini dapat empat ekor kambing,” ungkap orang tua mereka, Ana Fathah.
Silsilah dan Fenomena Medis yang Tak Terjelaskan
Ana Fathah mengisahkan bahwa untaian rambut gimbal kedua putrinya mulai tumbuh secara alami sejak mereka masih balita. Gejala awal pada Anindie terlihat saat ia menginjak usia 7 bulan, sementara sang adik, Andien, mulai tumbuh gumpalan rambut serupa pada usia 1 tahun.
Fenomena ini diduga bertautan dengan garis keturunan dari sang nenek. Ana mengaku, pada awalnya ia sempat tidak percaya bahwa di zaman modern ini anak-anaknya mengalami fenomena rambut gimbal.
Ia bahkan pernah berupaya memotong dan menyisir rambut Anindie saat pilinan gimbal mulai tampak. Namun, tindakan tersebut justru membuat kondisi kesehatan sang buah hati memburuk secara mendadak.
“Sempat dibawa ke rumah sakit karena sering sakit-sakitan. Tapi dari pemeriksaan medis tidak ditemukan penyakit tertentu. Sampai akhirnya ada orang tua yang menyarankan untuk dibiarkan saja, dan setelah dibiarkan kondisinya justru malah membaik,” jelas Ana.
Pengalaman spiritual bersama putri pertamanya membuat Ana lebih tanggap saat gejala serupa menimpa putri keduanya.
“Waktu adiknya ikut tumbuh gimbal, saya sudah tahu ciri-cirinya dari kakaknya. Jadi saya kapok menyisir atau memotongnya, dibiarkan begitu saja,” lanjutnya.
Lunas via Ruwatan Massal DCF 2026
Semula, pertumbuhan pilinan rambut gimbal pada Anindie dan Andien hanya bermula dari beberapa helai tipis. Seiring berjalannya waktu, helai demi helai rambut menyatu dan menebal secara bertahap tanpa disadari.
Setelah menunggu momen yang tepat dan keinginan pencukuran muncul dari diri sang anak, hasrat mereka untuk memotong rambut akhirnya terlaksana secara khidmat melalui prosesi ruwatan massal DCF 2026.
Selepas diruwat, rambut gimbal seluruh anak bajang dilarung ke Telaga Warna sebagai simbol mengembalikan titipan kepada leluhur dan Sang Pencipta, diiringi doa agar anak-anak tersebut tumbuh sehat dan membawa keberkahan bagi keluarga.




