Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Merti Bumi Festival Igirmranak XI
Wonosobo

Lautan Awan, 200 Tenong, dan Isak Haru Pamitan Kepala Desa Warnai Merti Bumi Festival Igirmranak XI 2026

Hamparan lautan awan putih yang menyelimuti lereng pegunungan menjadi panggung alami luar biasa ketika ribuan warga tumplek blek memenuhi lapangan utama Desa Igirmranak, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Diapit lanskap megah Gunung Sindoro dan Gunung Prau, gelaran Merti Bumi Festival Igirmranak XI Tahun 2026 kembali membuktikan diri sebagai salah satu perayaan budaya paling kolosal dan syarat makna di dataran tinggi Dieng.

Merti Bumi Festival Igirmranak XI
Merti Bumi Festival Igirmranak XI

Berlangsung selama lima hari berturut-turut pada 30 Juli hingga 3 Agustus 2026, festival ini mengusung tema besar “Melestarikan Bumi dan Seni Tradisi untuk Kemakmuran Masyarakat”. Merti Bumi bukan sekadar seremoni adat tahunan, melainkan wujud rasa syukur mendalam masyarakat lereng gunung atas kelimpahan hasil pertanian, kelestarian sumber mata air, serta harmoni alam yang menopang kehidupan mereka.

Puncak Perayaan: Kirab Hasil Bumi, 200 Tenong, dan 7 Bucu

Puncak kemeriahan festival yang berlangsung pada Minggu (2/8/2026) menyajikan pemandangan budaya yang megah. Lapangan desa dipenuhi oleh 200 tenong (wadah bambu tradisional berisi aneka kuliner lokal), 7 bucu, serta gunungan hasil bumi yang dihiasi aneka sayuran segar khas dataran tinggi.

Merti Bumi Festival Igirmranak XI

Rangkaian acara puncak diawali dengan pertunjukan Sendratari Merti Bumi yang dibawakan secara apik oleh warga lokal, menggambarkan filosofi hubungan harmonis antara manusia, Sang Pencipta, dan alam raya. Suasana semakin semarak saat tarian kreasi anak-anak serta aksi tari Warok lintas generasi yang dibawakan para guru SD Igirmranak bersama para alumni tampil memukau ribuan pasang mata.

Setelah prosesi doa bersama (hastungkoro) yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, Ahmad Bagio, momen yang paling ditunggu publik akhirnya tiba. Seluruh warga dan wisatawan duduk bersila bersama menikmati isi 200 tenong, disusul tradisi berebut berkah gunungan hasil bumi yang dipercaya membawa keselamatan dan kesuburan tanah pertanian di musim mendatang.

Kedalaman Filosofi Jawa dan Pesan Keberlanjutan

Tafrihan, Ketua Panitia yang telah 11 tahun setia mengawal gelaran Merti Bumi, menguraikan pesan spiritual dan sosial yang terkandung dalam angka-angka penanda usia Merti Bumi dan fase kehidupan manusia:

  • Angka 11 (Sewelas): Dimaknai sebagai Sejatining Welas (cinta kasih sejati yang tulus), yaitu fondasi gotong royong, kepedulian antarsesama warga, dan komitmen menjaga alam.

  • Angka 21 (Selikur): Dimaknai sebagai Senenge Lingguh Kursi, sebuah Pengingat kritis bahwa kepemimpinan dan jabatan adalah amanah melayani rakyat, bukan sekadar tujuan kekuasaan—pesan yang sangat relevan menjelang Pilihan Kepala Desa (Pilkades) Igirmranak.

  • Angka 25 (Selawe): Simbol keharmonisan antara laki-laki dan perempuan dalam membina rumah tangga serta membangun desa.

  • Angka 50 (Seket): Dimaknai Seneng Kethonan (gemar memakai peci/kopyah), pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbanyak introspeksi diri.

  • Angka 60 (Sewidak): Menandakan Sejatine Wis Wayahe Tindak, kesadaran bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke Sang Pencipta, sehingga penting untuk meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi penerus.

Isak Haru Pamitan Kepala Desa Tiga Periode

Suasana khidmat dan haru tak terbendung menyelimuti lapangan ketika Kepala Desa Igirmranak, Joko Trisadono, memberikan pidato perpisahan. Setelah menuntaskan masa pengabdian selama tiga periode kepemimpinan, Joko berpamitan secara resmi kepada seluruh warga desa menggunakan bahasa Jawa yang menyentuh hati.

Hampir seluruh warga yang hadir tertunduk lesu dan meneteskan air mata, merasa kehilangan sosok pimpinan sekaligus pamomong yang telah membawa perubahan besar bagi desa mereka. Selama bertugas, Joko merupakan salah satu penggagas utama yang berhasil mengangkat tradisi lokal Merti Bumi menjadi festival agenda wisata budaya berskala besar.

Sebagai penutup pengabdiannya, Joko secara simbolis menyerahkan kembali Keris Pusaka Nogo Sosro kepada sesepuh desa sebagai tanda penyerahan estafet kepemimpinan dan amanah menjaga keluhuran adat Igirmranak.

Sinergi Ekologi, Budaya, dan Edukasi Wisata Permakultur

Tidak hanya mengandalkan aspek pertunjukan seni, Merti Bumi XI juga menyajikan ruang edukasi lingkungan yang konkret melalui Kongres Mata Air XI, sebuah forum diskusi warga yang berfokus pada strategi pelestarian vegetasi penangkap air dan perlindungan mata air di kawasan resapan Dieng.

Rangkaian acara selama lima hari tersebut diwarnai parade seni heterogen, mulai dari penampilan magis Warok Gataksari, Kesenian Lengger Krakal Kejajar, panggung musik indie dari Romancoustic, pentas wayang kulit dua hari dua malam di GOR desa, hingga penutupan oleh 7 kelompok tari binaan Sanggar Ngesti Laras (Tari Semut, Gembira, Reno, Payung, Incling Jangget, Kebyok Anting-Anting, dan Rara Ngigel).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi warga Igirmranak. Ia menekankan bahwa perpaduan tradisi budaya dan konsep wisata permakultur (pola hidup selaras alam) yang diterapkan Desa Igirmranak menjadi aset berharga dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan. Fahmi juga mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat untuk semakin masif memanfaatkan kanal digital agar pesona “desa di atas awan” ini kian dikenal secara global.

error: Content is protected !!