Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Desa di Wadaslintang Mulai Kesulitan Air Bersih
Wonosobo

Kemarau Datang Lebih Cepat, Dua Desa di Wadaslintang Mulai Kesulitan Air Bersih

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo mulai bersiap mengantisipasi dampak bencana kekeringan seiring masuknya musim kemarau tahun 2026. Berdasarkan laporan terkini di lapangan, sejumlah desa di beberapa kecamatan dilaporkan sudah mulai mengalami penyusutan debit air bersih.

Desa di Wadaslintang Mulai Kesulitan Air Bersih
Desa di Wadaslintang Mulai Kesulitan Air Bersih

Hingga pertengahan Juli ini, dua desa di Kecamatan Wadaslintang, yakni Desa Trimulyo dan Desa Kumejing, menjadi wilayah pertama yang merasakan dampak berkurangnya pasokan air bersih bagi kebutuhan harian warga.

Jaringan Mata Air dan Sumur Bor Mulai Macet

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Wonosobo, Sabarno, menjelaskan bahwa penurunan pasokan air di kawasan selatan tersebut dipicu oleh tidak berfungsinya infrastruktur penyedia air secara optimal akibat menyusutnya sumber mata air alami.

“Karena ada jaringan-jaringan mata air itu, baik sumur bor maupun jaringan lainnya, sudah tidak berfungsi lagi di Desa Trimulyo dan Kumejing,” ujar Sabarno, Kamis (16/7/2026).

Kecamatan Wadaslintang secara geografis memang tergolong sebagai wilayah langganan kekeringan tahunan. Di Dusun Rejosari (Desa Kumejing) misalnya, ketika puncak kemarau tiba, warga setempat terpaksa harus berjalan kaki hingga satu kilometer demi mendapatkan air bersih layak konsumsi.

Meski pemukiman mereka berdekatan dengan Waduk Wadaslintang, air waduk tersebut dinilai tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi.

“Itu juga paling hanya bisa digunakan untuk cuci dan mandi, tidak layak konsumsi kalau air waduk,” tambah Sabarno.

Peta Kerawanan: Kemarau Diprediksi Maju Lebih Awal

Selain kawasan Wadaslintang, BPBD juga telah bergerak cepat mendistribusikan air bersih ke SD Negeri Banyukembar di Kecamatan Watumalang. Sekolah yang berada di ujung bukit ini memang kerap terisolasi dari jaringan air bersih saat musim kemarau.

Berdasarkan data dan evaluasi pemetaan tahun-tahun sebelumnya, BPBD Wonosobo merilis daftar wilayah lain yang memiliki potensi kerawanan kekeringan tinggi apabila kemarau berlangsung panjang:

Kecamatan Desa / Wilayah Rawan Status Antisipasi
Wadaslintang Desa Trimulyo, Desa Kumejing Mulai terdampak / Krisis air bersih
Watumalang Desa Banyukembar (Area Sekolah) Droping air berskala berkala telah dimulai
Sapuran Wilayah Pecekelan Potensi terdampak kemarau panjang
Garung Desa Kayugiyang Potensi terdampak kemarau panjang
Kalibawang Desa Tempurejo (Ngedongan) Dipantau khusus (Tersedia jaringan Pamsimas)

Sabarno memproyeksikan kemarau tahun ini datang sedikit lebih cepat dari siklus biasanya. Berdasarkan tren tahunan, dampak kekeringan ekstrem baru akan meluas secara masif setelah wilayah Wonosobo melewati masa tiga bulan tanpa hujan.

Tantangan Operasional dan Distribusi Logistik

Menghadapi potensi perluasan daerah terdampak, BPBD Wonosobo kini mulai mematangkan skema operasional dan memperhitungkan kebutuhan logistik armada tanki air. Beberapa kendala teknis di lapangan, seperti akses pembelian bahan bakar armada hingga kondisi geografis medan yang ekstrem, mulai diantisipasi sejak dini.

“Kami sudah mulai memperhitungkan kebutuhan operasional, termasuk ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) mengingat pembelian solar saat ini agak sulit. Terlebih, medan-medan di Wonosobo yang rawan kekeringan ini lokasinya cukup jauh dan berbukit,” pungkas Sabarno.

BPBD mengimbau masyarakat di daerah rawan untuk mulai menghemat penggunaan air bersih serta menjaga kelestarian tangkapan air di lingkungan sekitar sebagai langkah mitigasi awal secara mandiri.

error: Content is protected !!