Duka SMAN 1 Watumalang Melepas Arfin Nurohmat: Selamat Jalan Putra Terbaik, Berbudi Luhur dan Penyayang Teman
Kepergian Arfin Nurohmat (18), salah satu korban yang ditemukan meninggal dunia dalam tragedi di jurang Gunung Bismo, menyisakan luka mendalam yang luar biasa. Rasa kehilangan yang masif tidak hanya dirasakan oleh keluarga besar di Dusun Rejosari, Desa Krinjing, namun juga menyelimuti seluruh civitas akademika SMA Negeri 1 Watumalang, tempat Arfin menempuh pendidikan di bangku kelas 12.3.

Melalui unggahan resmi di media sosial sekolah, pihak SMA Negeri 1 Watumalang menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam, sekaligus memberikan penghormatan terakhir bagi sosok yang mereka sebut sebagai salah satu putra terbaik sekolah.
Dikenal Berakhlak Mulia, Santun, dan Hangat
Di mata para guru dan teman-teman sebayanya, Arfin bukan sekadar murid biasa. Remaja berusia 18 tahun ini dikenal luas sebagai pribadi dengan kepribadian yang sangat santun, ramah, mudah bergaul, serta memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.
Kehangatan sifatnya membuat kepergiannya terasa bagai mimpi buruk yang sulit diterima oleh rekan-rekan sekelasnya, terutama mengingat ia baru saja memasuki tahun terakhir masa sekolahnya.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami segenap keluarga besar SMA Negeri 1 Watumalang menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rahmatullah, salah satu putra terbaik, teman, dan siswa kami tercinta, Ananda Arfin Nurohmat,” tulis pernyataan resmi sekolah.
“Ananda Arfin dikenal sebagai sosok teman yang baik, berbudi pekerti, dan akan selalu dikenang oleh teman-teman sekelas serta seluruh civitas akademika SMA Negeri 1 Watumalang. Kebaikanmu akan selalu kami kenang,” tambah rilis tersebut.
Unggahan duka cita ini langsung dibanjiri ribuan simpati, tanda suka, serta untaian doa dari para alumni, wali murid, hingga masyarakat luas yang tersentuh oleh kisah perjuangan pencarian almarhum.
Kronologi Singkat Pencarian Selama 10 Hari
Tragedi ini bermula ketika Arfin bersama adik sepupu sekaligus sahabat dekatnya, Yufaidin (15) alias Idin, pamit meninggalkan rumah pada Selasa (30/6/2026) siang untuk mencari burung di lereng Gunung Bismo.
Karena tak kunjung pulang hingga larut malam, laporan kehilangan resmi segera dilayangkan. Laporan tersebut langsung direspons cepat oleh operasi SAR gabungan skala besar yang memobilisasi ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan daerah, hingga unit K9 (anjing pelacak).
Setelah pencarian melelahkan selama 10 hari yang penuh rintangan cuaca, jasad kedua korban akhirnya ditemukan pada Minggu (12/7/2026) siang oleh relawan Wanadri di dasar lembah Curug Telu. Proses evakuasi dari dasar jurang sedalam 284 meter berlangsung dramatis dan berisiko tinggi sebelum akhirnya kedua jenazah berhasil dievakuasi ke RSUD Setjonegoro.
Alarm Penting Terkait Keselamatan di Alam Bebas
Musibah yang menimpa Arfin dan Yufaidin menjadi duka kolektif sekaligus momentum pengingat yang sangat berharga bagi publik, khususnya masyarakat lereng pegunungan di Wonosobo.
Para pakar keselamatan dan komunitas pencinta alam kembali menekankan beberapa protokol krusial saat beraktivitas di sekitar kawasan hutan atau tebing gunung:
-
Wajib Berizin & Melapor: Selalu memberi tahu keluarga atau pihak posko terkait tujuan dan rute spesifik perjalanan.
-
Perlengkapan Standar: Menggunakan alas kaki dengan grip yang baik dan membawa alat navigasi dasar serta alat penerangan.
-
Pahami Cuaca & Karakter Medan: Menghindari lereng terjal di lereng selatan yang rimbun saat kabut pekat atau hujan mulai turun karena memicu permukaan tanah yang sangat licin.
Kini, Arfin telah beristirahat dengan tenang. Senyum ramah dan budi pekerti luhur siswa kelas 12.3 ini akan tetap abadi, hidup di dalam ruang kelas serta sanubari setiap guru dan sahabat di SMA Negeri 1 Watumalang. Selamat jalan, Arfin.




