Syukuran Petani Gunung Alang dan Komitmen Menjaga Hutan
Syukuran Petani Gunung Alang dan Komitmen Menjaga Hutan

Dinginnya udara di lereng Gunung Sindoro tidak menyurutkan kehangatan ratusan warga Dusun Gunung Alang, Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Pada Senin, 5 Januari 2026, warga tumpah ruah merayakan Syukuran Kelompok Tani Sindoro Mulyo, sebuah perhelatan yang memadukan rasa syukur atas hasil bumi dengan penguatan ikatan sosial.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan panen biasa, melainkan manifestasi nyata dari nilai gotong royong, pelestarian budaya, hingga komitmen ekologis dalam menjaga kawasan hutan lindung.

Mempererat Silaturahmi Lewat Tradisi

Acara dimulai dengan tradisi makan bersama yang diikuti oleh seluruh warga dari dua RT di Dusun Gunung Alang. Sekitar 400 warga duduk bersimpuh, berbagi hidangan dalam suasana kekeluargaan yang kental.

Kepala Desa Buntu, Suwoto, menjelaskan bahwa agenda rutin tahunan ini bertujuan untuk memulihkan kebersamaan dan mempererat silaturahmi.

“Makan bersama ini adalah tradisi orang Jawa. Di sini kita duduk bersama, saling menyapa, dan menghormati. Ini bagian dari upaya nguri-nguri budaya yang sejak dulu sudah ada dan alhamdulillah masih terus dilaksanakan,” ujar Suwoto.

Setelah makan bersama, suasana khidmat berlanjut dengan pengajian yang menghadirkan Gus Wik dari Kabupaten Kendal sebagai penceramah. Kemeriahan pun berlanjut hingga malam hari dengan pementasan Tari Warok Putro Margotomo, kesenian tradisional khas Desa Buntu yang tetap lestari hingga kini.


Pertanian Berkelanjutan di Kawasan Hutan Lindung

Di balik kemeriahannya, acara ini membawa pesan penting mengenai pengelolaan alam. Wakil Ketua Kelompok Tani Sindoro Mulyo, Nasrudin, mengungkapkan bahwa syukuran ini merupakan bentuk terima kasih atas keberhasilan sistem pertanian tumpang sari yang mereka kelola di lahan Perhutani.

Saat ini, kelompok tani mengelola sekitar 20 hektare lahan dari total 40 hektare yang dipercayakan. Sebanyak 80 petani dari Desa Buntu dan sekitarnya menanam komoditas sayur-mayur seperti kentang, wortel, bawang, dan tembakau, berdampingan dengan tanaman keras seperti:

“Prinsip kami bukan merusak hutan, tapi menyelamatkan hutan. Karena ini kawasan hutan lindung, penggarapannya harus sesuai aturan agar tidak terjadi erosi yang merugikan semua pihak,” tegas Nasrudin.

Produktivitas yang Meningkat

Nasrudin menambahkan bahwa pola pengelolaan berkelanjutan ini membuahkan hasil positif. Produktivitas lahan terus meningkat setiap tahunnya. Sebagai contoh, hasil panen kentang yang semula hanya satu kuintal, kini mampu mencapai 1,5 hingga 2 kuintal.


Harapan untuk Masa Depan

Bagi warga Gunung Alang, kesejahteraan ekonomi dan kelestarian hutan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Melalui syukuran yang sudah berjalan selama empat tahun terakhir ini, mereka meneguhkan janji untuk menjaga amanah pengelolaan lahan.

“Harapan kami ke depan, kelompok tani tetap eksis dan hutan tetap lestari. Selama diberi kepercayaan oleh Perhutani, kami berkomitmen menjaga hutan sebaik mungkin agar memberi manfaat tanpa merugikan siapa pun,” pungkas Nasrudin.

Acara ini menjadi bukti bahwa di tangan masyarakat yang peduli, tradisi dan modernitas pengelolaan hutan dapat berjalan beriringan demi masa depan yang lebih hijau dan sejahtera.***

By admin

error: Content is protected !!