Lelah Menunggu Janji, Warga Desa Tlogo Wonosobo Iuran Ratusan Juta Cor Jalan Kabupaten Sendiri
Kesabaran warga Desa Tlogo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, akhirnya mencapai batasnya. Setelah bertahun-tahun melewati jalan rusak tanpa kepastian perbaikan dari pemerintah daerah, masyarakat memilih turun tangan melakukan pengecoran secara mandiri di ruas Jalan Manggis–Tlogogudang, Senin (11/5/2026).

Jalan yang berstatus jalan kabupaten tersebut kondisinya sangat memprihatinkan dengan lubang menganga dan permukaan bergelombang. Kondisi ini kerap memicu kecelakaan, terutama saat musim penghujan ketika lubang-lubang tertutup genangan air.
Iuran Swadaya Hingga Rp100 Juta
Aksi nyata ini lahir dari inisiatif warga yang sepakat mengumpulkan iuran sukarela. Tokoh masyarakat Desa Tlogo, Nuryanto, mengungkapkan bahwa semangat gotong royong warga sangat tinggi karena kebutuhan akan akses jalan yang aman sudah tidak bisa ditunda lagi.
Dana yang terkumpul dari kantong pribadi warga diperkirakan mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli material seperti semen, pasir, dan koral.
“Jalan ini sudah lama rusak dan sering membahayakan pengguna jalan. Karena belum ada perbaikan permanen, warga akhirnya sepakat iuran dan gotong royong melakukan pengecoran sendiri,” ujar Nuryanto di sela-sela kegiatan pengerjaan jalan.
Pengecoran tahap awal dilakukan sepanjang kurang lebih 100 meter. Warga menyiasatinya dengan mengerjakan setengah badan jalan terlebih dahulu agar arus lalu lintas kendaraan tidak terputus total.
Pasang Banner Kritik: Sindir Pemerintah Kabupaten
Selain bekerja fisik mencampur semen dan mengangkut material, warga juga meluapkan kekecewaannya dengan memasang banner bernada kritik di sekitar lokasi. Banner-banner tersebut menjadi simbol protes atas lambannya respons Pemerintah Kabupaten Wonosobo terhadap infrastruktur di wilayah Sukoharjo.
Nuryanto menyebut kondisi jalan rusak ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Selama ini, upaya yang dilakukan pemerintah dinilai hanya sebatas “tambal sulam” yang langsung rusak kembali saat musim hujan tiba.
Respons DPUPR: Alasan Keterbatasan Anggaran
Menanggapi aksi “protes melalui kerja nyata” warga tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo akhirnya angkat bicara. Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Wonosobo, Edi Hartono, mengakui adanya kerusakan infrastruktur di wilayah tersebut namun berdalih terkendala masalah finansial.
Berdasarkan data DPUPR, dari total 4,31 kilometer ruas Jalan Manggis–Tlogogudang, sepanjang 1,6 kilometer di antaranya memang dalam kondisi rusak berat.
“Dalam waktu dekat akan kita bantu material berupa semen, karena keterbatasan anggaran sementara baru bisa menangani titik itu,” ujar Edi.
Edi menambahkan bahwa penanganan permanen untuk sisa jalan yang rusak berat hanya bisa dilakukan apabila ruas tersebut masuk dalam skala prioritas hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sukoharjo.
Langkah swadaya warga Tlogo ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah, sekaligus menunjukkan potret kemandirian masyarakat di tengah keterbatasan distribusi pembangunan infrastruktur di daerah.




