Terancam Longsor Susulan dan Krisis Irigasi, Warga 3 Kecamatan Desak Kepastian Perbaikan Kali Tandu Wonosobo
Peninjauan langsung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo ke lokasi kerusakan Kali Tandu di Desa Sukorejo, Kecamatan Mojotengah, belum sepenuhnya meredakan kecemasan warga. Pasalnya, hingga kini masyarakat yang menggantungkan hidup dari aliran sungai tersebut masih menanti kepastian kapan proyek perbaikan fisik akan mulai direalisasikan.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (25/8/2026), kerusakan akibat tergerusnya tebing sungai cukup memprihatinkan. Tebing yang longsor diperkirakan mencapai panjang 45 meter dan telah mengikis sebagian bahu jalan utama. Tak hanya itu, bangunan bendungan pengendali air di bagian hulu juga mengalami kerusakan parah akibat hantaman debit air.
Sumber Kehidupan Petani di 3 Kecamatan
Kerusakan Kali Tandu membawa dampak domino yang sangat luas. Aliran air sungai ini merupakan urat nadi sektor pertanian, perikanan, hingga potensi wisata lokal bagi masyarakat di tiga kecamatan, yakni Mojotengah, Watumalang, dan Leksono.
Beberapa desa yang terdampak langsung antara lain:
-
Kecamatan Mojotengah: Desa Sukorejo, Larangankulon, dan Pungangan.
-
Kecamatan Watumalang: Desa Gondang dan Bumiroso.
Lurah Larangankulon, Khamim, menegaskan bahwa bendungan di hulu sungai memiliki peran krusial dalam mengatur pasokan air irigasi, terutama menjelang musim kemarau.
“Nek ora ana bendungan ya banyu bablas. Atau bendungane rusak ya bablas,” tutur Khamim.
Ia memaparkan bahwa tanpa bendungan yang berfungsi baik, air akan terbuang sia-sia tanpa sempat dialirkan ke areal persawahan dan kolam-kolam budidaya ikan milik warga. Kerusakan ini juga mengancam keberlangsungan atraksi wisata tubing yang baru dirintis oleh kelompok pemuda setempat.
Estimasi Anggaran Penanganan Mencapai Rp3,5 Miliar
Dari hasil peninjauan awal tim teknis DPUPR Kabupaten Wonosobo, total perkiraan kebutuhan anggaran untuk penanganan menyeluruh di kawasan Kali Tandu mencapai Rp3,5 miliar.
Rincian estimasi kebutuhan penanganan teknis tersebut meliputi:
-
Penguatan Tebing & Bahu Jalan (45 meter): Diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.
-
Pembangunan Bendungan / Tanggul Baru: Diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.
Kendati demikian, besaran angka tersebut masih sebatas kalkulasi teknis awal di lapangan dan belum masuk ke dalam kepastian alokasi anggaran pelaksanaan APBD.
Warga Desak Pengawalan dari DPRD Wonosobo
Belum adanya kejelasan mengenai jadwal eksekusi dan kepastian alokasi dana membuat masyarakat berharap banyak pada wakil rakyat. Warga meminta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Wonosobo ikut mengawal dan memperjuangkan penganggaran perbaikan Kali Tandu agar tidak menggantung sebatas peninjauan.
“Kami mohon perhatian dan dorongan dari DPRD Wonosobo. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal hidup matinya ribuan petani di tiga kecamatan,” tegas salah satu perwakilan warga.
Lurah Larangankulon, Khamim, menutup dengan penegasan bahwa penanganan Kali Tandu tidak boleh dipandang sekadar perbaikan fisik jalan atau bangunan pelengkap semata, melainkan penyelamatan aset penghidupan warga.
“Ini fungsi sumber kehidupan,” pungkasnya.
Merekanya berharap pemerintah daerah segera menerbitkan kepastian skema anggaran dan lini masa pelaksanaan pekerjaan sebelum kerusakan tebing semakin meluas ditelan cuaca ekstrem.




