Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Warga Nahdliyin Ikuti Ziarah Massal
Wonosobo

2.000 Warga Nahdliyin Ikuti Ziarah Massal 36 Makam Ulama di Kepil Wonosobo

Lebih dari 2.000 warga Nahdliyin mengikuti Ziarah Muqbarah Masyayikh dan tokoh NU Kecamatan Kepil yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) setempat, Sabtu (24/1/2026). Ziarah massal ini menyusuri 36 makam ulama di 16 titik pemakaman sebagai bentuk pelestarian tradisi dan penghormatan kepada para pendahulu.

Warga Nahdliyin Ikuti Ziarah Massal
Warga Nahdliyin Ikuti Ziarah Massal

Ziarah 36 Makam Ulama dalam Satu Perjalanan Spiritual

Di Kecamatan Kepil, tradisi ziarah makam melampaui kebiasaan individual. Warga merangkainya menjadi ziarah massal, sebuah laku kolektif yang diikuti ribuan orang dengan menyusuri puluhan makam ulama dalam satu rangkaian perjalanan spiritual.

Sejak pagi, iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat mengular rapi, bergerak dari desa ke desa. Ziarah dimulai dari makam KH Raden Abdul Fattah di Dusun Sigedong, Desa Tegalgot.

Dari titik ini, rombongan menelusuri 36 makam mubaraq para masyayikh dan tokoh NU yang tersebar di 16 titik pemakaman, sebelum berakhir di makam Jangkrikan, tempat disemayamkannya KH Syamzudin Zuhri, salah satu tokoh penyebar thoriqoh di wilayah tersebut.

Tradisi Kolektif Menjaga Hubungan dengan Ulama Pendahulu

Berbeda dengan ziarah personal yang lazim dilakukan, ziarah Kepil dirancang sebagai perjalanan bersama. Doa dipanjatkan serentak, nama-nama ulama disebut berulang, dan sejarah lokal pun kembali hidup.

“Ini bukan sekadar ritual. Ini cara masyarakat Kepil menjaga hubungan dengan para pendahulunya,” ujar Camat Kepil, Eko Premono, yang hadir dalam acara pembukaan tersebut.

Makna Tawasul dalam Tradisi NU

Bagi warga Nahdlatul Ulama, ziarah ke makam ulama bukan dimaknai sebagai pemujaan, melainkan tawasul—bentuk ikhtiar batin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut orang-orang saleh yang telah berjasa dalam dakwah dan pendidikan umat.

Ziarah juga menjadi ruang keteladanan moral. Ulama yang diziarahi bukan sekadar dikenang namanya, tetapi diingat laku hidupnya yang sederhana, berani, dan selalu mengabdi kepada masyarakat. Dengan berziarah, warga NU menempatkan sejarah sebagai guru, bukan sekadar cerita masa lalu.

Tokoh-Tokoh Ulama yang Diziarahi

Nama KH Raden Abdul Fattah menempati posisi penting dalam rangkaian ziarah. Ia dikenal sebagai tokoh senior penyebaran Islam di Wonosobo, sezaman dengan Mbah Dalhar Watucongol, Magelang, sekaligus ulama pejuang kemerdekaan. Pada masa perang, rumah dan pesantrennya menjadi pusat diskusi para ulama dan pejuang.

Selain itu, rombongan juga menyambangi maqbarah tokoh-tokoh penting lainnya, seperti:

  • KH Ahmad Tohari
  • Kiai Abdullah Sajad
  • KH Muhammad Sabilan
  • Kiai Muhammad Badri
  • Kiai Sya’roni
  • Kiai Sobikhan
  • Kiai Hasyim Suyono
  • Kiai Khayadin
  • Mbah Warjo
  • Mas Nur Aziz Akbar
  • KH Syamzudin Zuhri

Gotong Royong: Makanan Gratis Sepanjang Rute Ziarah

Sembari melakoni perjalanan spiritual bersama, para peziarah tidak khawatir kelaparan. Sepanjang rute ziarah, warga menyediakan makanan gratis dari sarapan hingga makan siang di titik-titik tertentu. Semua berasal dari iuran sukarela warga sebagai wujud sedekah dan gotong royong.

Tradisi menjamu peziarah ini memperlihatkan bagaimana nilai NU tidak berhenti pada doa, tetapi hadir dalam tindakan sosial yang nyata. Ziarah massal menegaskan bahwa tradisi NU hidup dalam kebersamaan—doa dilakukan bersama, nilai diwariskan bersama, dan ingatan dijaga bersama.

Pelestarian Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Meski di tengah perubahan zaman, tradisi NU di Kepil masih dirawat bukan sekadar dikenang, tetapi dijalani bersama dari tahun ke tahun hingga saat ini. Ziarah Muqbarah Masyayikh menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai keagamaan, keteladanan, dan solidaritas sosial tetap terjaga dalam kehidupan masyarakat Nahdliyin.

Kegiatan ini juga memperkuat ikatan antarwarga sekaligus menjadi media pendidikan sejarah Islam lokal bagi generasi muda, memastikan bahwa jasa para ulama pendahulu tidak terlupakan oleh waktu.

error: Content is protected !!