Keindahan alam dengan latar Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing kini menjadi daya tarik utama Jalan Lingkar Sumbing atau Jalisu di Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Jalur yang baru dibuka untuk umum setelah rampung diperlebar itu belakangan viral di media sosial dan ramai dikunjungi wisatawan.
Sejak diperbincangkan di berbagai platform, khususnya TikTok, Facebook, dan Instagram, Jalisu mulai dilintasi warga lokal maupun pengunjung dari luar kota. Banyak pengendara sengaja datang untuk menikmati panorama pegunungan dan hamparan lahan pertanian yang membentang di sepanjang jalur tersebut.
Pantauan di lokasi, Rabu (7/1/2026), cuaca cerah mendukung ramainya kendaraan yang menepi di beberapa titik jalan. Setidaknya ada tiga lokasi yang kini menjadi spot foto favorit wisatawan. Di titik-titik itu pula, warga mendirikan warung-warung kecil yang menjajakan kopi, gorengan, dan minuman hangat.
Sejumlah warga tampak membantu mengatur kendaraan agar arus lalu lintas tetap lancar. Maklum, jalur ini masih aktif digunakan sebagai akses pertanian. Kendaraan pengangkut sayuran terlihat hilir mudik bersamaan dengan warga yang bekerja di ladang.
Salah satu wisatawan, Bagus, asal Semarang, mengaku sengaja datang ke Wonosobo setelah melihat Jalisu viral di TikTok. Ia berangkat dari Semarang pukul 09.00 WIB dengan tujuan utama langsung menuju Jalan Lingkar Sumbing.
“Ke sini sengaja karena lihat di TikTok viral. Tempatnya bagus, suasananya sejuk, jadi pengin lihat langsung,” ujar Bagus.
Menurutnya, kondisi jalan cukup aman dilalui meski berkelok. “Jalannya lumayan, nggak terlalu ekstrem, masih biasa dan bisa dijalani,” katanya.
Bagus menilai panorama yang ia temui sesuai dengan yang ditampilkan di media sosial. Lanskap pegunungan dan pertanian membuat suasana terasa sejuk dan asri. Ia pun berencana memutari ujung jalur untuk melihat keseluruhan panorama.
Fenomena viralnya Jalisu membuat banyak wisatawan luar kota memanfaatkan waktu libur untuk berkunjung ke Wonosobo sekaligus menikmati udara pegunungan.
Mulai Ramai Sejak Akhir Desember
Warga Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Soliah, mengatakan Jalan Lingkar Sumbing mulai ramai sejak akhir Desember 2025, tak lama setelah pembangunan rampung dan jalan dibuka untuk umum.
“Awalnya viral setelah selesai dibangun dan dibuka, sekitar akhir Desember,” ujarnya.
Soliah memanfaatkan momentum tersebut dengan berjualan di tepi jalan sejak sepekan terakhir. Ia membuka warung dari pukul 06.00 hingga 20.00 WIB, menjual gorengan dan kopi.
“Alhamdulillah ramai. Dulu keadaannya sepi, jalannya kecil dan hanya bisa dilewati satu mobil. Sekarang sudah diaspal, lebih bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Soliah, jalur ini kini tak hanya ramai pagi dan sore hari, tetapi juga malam. Selain menjadi daya tarik wisata, Jalisu tetap berfungsi sebagai akses utama pertanian warga.
“Sekarang sayurnya kubis, brokoli, sama sawi. Kalau September biasanya tembakau,” ujarnya.
Pemkab Antisipasi Alih Fungsi Lahan
Menjamurnya warung dan meningkatnya jumlah pengunjung di sepanjang Jalisu dinilai berpotensi memicu alih fungsi lahan. Hal ini pun menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Wonosobo.
Dalam rapat Forum Tata Ruang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Wonosobo diminta mengkaji perubahan pola pertanian di kawasan Sumbing–Sindoro selama 10 tahun terakhir.
Kepala DPUPR Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menegaskan pemerintah daerah tidak ingin pembangunan infrastruktur justru mendorong alih fungsi lahan secara masif.
“Kami tidak ingin infrastruktur terbangun kemudian memicu pengalihfungsian lahan,” tegasnya.
Pemkab akan melakukan koordinasi lintas instansi agar pembangunan tetap sejalan dengan perlindungan kawasan lindung serta menjaga daya dukung lingkungan.
Dengan panorama alam yang memikat dan akses jalan yang semakin baik, Jalan Lingkar Sumbing kini menjadi wajah baru pariwisata Wonosobo. Jalur ini menghubungkan sejumlah desa dan kecamatan, mulai dari Reco, Butuh, Kembaran, Bowongso, Banyumudal, hingga kawasan Kalikajar dan sekitarnya.
