Angin segar berembus bagi sektor perekonomian dan kepariwisataan di Kabupaten Wonosobo. Jalur wisata strategis menuju Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, dalam waktu dekat bakal dilengkapi dengan fasilitas akomodasi premium menyusul rencana pembangunan Hotel Santika.

Proyek prestisius hotel berbintang 4 tersebut diinisiasi melalui kolaborasi investasi strategis antara PT Sumber Karya Indonesia (SKI) dan PT Bersama Rancang Karya Indonesia (BRKI).
Nilai Investasi Fantastis dan Fasilitas Representatif
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Wonosobo, Retno Eko Syafariyati, mengungkapkan nilai investasi yang digelontorkan untuk pembangunan megaproyek akomodasi ini menyentuh angka Rp200 miliar.
Hotel Santika diproyeksikan akan menjadi salah satu hotel terbesar dan paling representatif di wilayah Kabupaten Wonosobo. Retno memerinci sejumlah kapasitas dan fasilitas penunjang modern yang akan dibangun di atas lahan Desa Buntu tersebut:
-
Kapasitas Kamar: Menyediakan total 144 kamar eksklusif.
-
Fasilitas MICE: Dilengkapi ruang pertemuan besar (ballroom) berkapasitas hingga 1.500 orang.
-
Area Parkir: Mampu menampung hingga 150 unit kendaraan roda empat.
“Saat ini, pihak investor tengah aktif merampungkan seluruh proses perizinan. Setelah perizinan selesai, proses konstruksi fisik hotel bintang 4 tersebut akan segera dimulai. Kehadiran fasilitas ini sangat penting, sehingga jika ke depan Wonosobo dipercaya menggelar event berskala nasional, kita sudah memiliki tempat yang sangat representatif,” ujar Retno saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/6/2026) sore.
Mendorong Efek Multiplier dan Hilirisasi Sektor Pertanian-UMKM
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo menekankan bahwa masuknya investasi skala besar ini tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus mampu menjadi motor penggerak (multiplier effect) bagi potensi lokal, khususnya sektor pertanian, pariwisata, dan UMKM.
Retno menjelaskan, tren dunia pariwisata saat ini telah bergeser dari sekadar menikmati keindahan panorama (sightseeing) menuju ke arah wisata berbasis pengalaman (experiential tourism). Kehadiran hotel jaringan nasional ini diharapkan mampu memfasilitasi pelancong untuk merasakan langsung ekosistem lokal, seperti aktivitas memetik hasil panen, workshop edukasi kopi, hingga mencicipi kuliner khas setempat.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Pemkab Wonosobo yang tengah getol mendorong pola hilirisasi di sektor pertanian, agar hasil bumi tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah melainkan produk olahan bernilai jual tinggi.
“Produk seperti Kopi Dieng dan Carica bukan sekadar komoditas, tetapi identitas daerah yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Melalui modernisasi dan hilirisasi yang terintegrasi dengan akomodasi, pendapatan petani lokal berpotensi meningkat sekitar 30 hingga 50 persen karena adanya kepastian pasar dan nilai tambah produk,” imbuh Retno.
Komitmen Sinergi Pengusaha Lokal dan Nasional
Rencana ekspansi hotel jaringan nasional ini mendapat respons positif dari kalangan dunia usaha daerah. Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Wonosobo, Matranto, menyatakan kesiapannya untuk mengawal kolaborasi ini agar berdampak langsung bagi masyarakat bawah.
Matranto menegaskan, HIPMI berkomitmen menjembatani akses komunikasi agar para petani, pelaku wisata lokal, dan perajin UMKM dapat duduk bersama dan berkolaborasi dengan investor berskala besar.
“Kami sebagai pelaku usaha di daerah berupaya keras membangun akses ke para pengusaha nasional. Tujuannya jelas, agar sektor usaha mikro dan petani di Wonosobo bisa ikut naik kelas, berkolaborasi mendongkrak sektor usaha lokal sesuai dengan potensi luar biasa yang kita miliki,” tandas Matranto.




