Sepekan Dua Remaja Hilang di Gunung Bismo, Dua Keluarga di Watumalang Menjalani Penantian Panjang
Hanya dipisahkan satu rumah di Dusun Krinjing, Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, dua keluarga menjalani penantian yang sama. Sudah sepekan lebih mereka menunggu kabar Arifin Nurohmat atau Apin (18) dan Yufaidin atau Idin (15), dua remaja yang belum kembali ke rumah setelah diduga menuju Gunung Bismo pada Selasa (30/6/2026) siang.

Turkini, Ibu Apin: “Makan Saja Enggak Ketelen”
Di rumah Apin, sang ibu, Turkini, lebih banyak menghabiskan waktu duduk di teras rumah sambil memandang ke arah jalan. Sesekali, matanya mengarah ke setiap orang yang melintas, seolah berharap putra bungsunya tiba-tiba pulang dengan senyum seperti biasanya.
Turkini menceritakan, Selasa (30/6/2026) pagi, tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani sekaligus mengumpulkan barang-barang rongsok itu bersiap berangkat ke ladang. Sebelum pergi, ia sempat berbincang singkat dengan Apin.
“Saya ketemu itu hari Selasa. Saya tanya, ‘Pin arep nang alas ora? Nek arep nang alas ya rana, nek ora ya ra papa.’ Ya sudah gitu saja,” kenangnya.
Percakapan itu menjadi komunikasi terakhir antara ibu dan anak tersebut. Turkini mengaku sama sekali tidak memiliki firasat bahwa putranya akan pergi dan belum kembali hingga berhari-hari.
“Sebelum hilang saya enggak ada firasat apa-apa,” ucapnya.
Saat pulang dari ladang, Apin sudah tidak berada di rumah. Turkini lalu bertanya kepada keponakannya mengenai keberadaan putranya. Jawaban yang diterimanya sederhana. Apin disebut pergi bermain, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui ke mana tujuannya.
“Saya tanya keponakannya, Apin di mana? Dijawab katanya mau main, cuma bilang ke sana, Apin enggak menyebutkan ke mana,” lanjutnya.
Malam harinya, keluarga Apin dan Idin mulai berinisiatif melakukan pencarian karena hingga malam keduanya tak kunjung pulang. Keesokan harinya, warga Desa Krinjing ikut turun membantu pencarian hingga akhirnya operasi melibatkan tim SAR gabungan dari berbagai unsur.
Kenangan tentang Apin: Anak Rajin Penuh Karya
Sejak saat itu, hari-hari Turkini berubah. Aktivitas yang biasanya dijalani bersama Apin kini terasa sepi. Di rumah sederhana itu, berbagai hasil karya Apin masih tertata rapi. Sebuah gitar buatannya sendiri tergantung di dinding. Plafon rumah yang kini menaungi keluarganya pun merupakan hasil pekerjaan tangan putranya.
Bagi Turkini, benda-benda itu kini menjadi pengingat sosok anak yang dikenal rajin membantu orang tua dan gemar membuat berbagai kerajinan di waktu luangnya.
“Kalau sekolah ya sekolah. Kalau di rumah ya utak-utik itulah, bikin apa, bikin apa. Buat gitar, buat pajangan,” ujarnya.
Apin saat ini duduk di kelas XII SMA. Selain bersekolah, ia juga kerap membantu ibunya bekerja di ladang, terutama saat musim panen tiba.
“Anak saya sering bantu di ladang, kayak panen,” kata Turkini.
Di sekolah, Apin dikenal sebagai siswa yang aktif. Ia mengikuti kegiatan Pramuka, gemar bermain sepak bola, dan pernah menerima penghargaan sebagai siswa teladan ketika masih duduk di bangku SMP.
“Anaknya aktif, pernah bilang setelah lulus pengin kerja merantau cari duit,” tutur Turkini.
Apin tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya. Sang ayah telah meninggal dunia saat Apin masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, Turkini menjadi sosok yang mendampingi anak-anaknya hingga tumbuh dewasa. Kini, setiap hari yang dijalani terasa jauh lebih berat.
“Perasaannya enggak enak. Anak enggak di rumah, khawatir. Makan saja enggak ketelen,” ucapnya.
Setiap Malam Tak Pernah Berhenti Berdoa
Setiap malam, Turkini mengaku tidak pernah berhenti memanjatkan doa agar putranya segera ditemukan.
“Saya doain terus biar cepat ketemu. Mujahadah setiap malam,” ungkapnya.
Meski khawatir, Turkini berusaha menguatkan diri. Ia terus mengikuti setiap perkembangan pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan dan berharap ada kabar baik yang datang setiap harinya.
Di sela-sela penantian itu, pikirannya terus kembali pada sosok Apin yang dikenalnya sebagai anak sederhana dan tidak pernah merepotkan keluarga. Menurutnya, Apin juga sudah beberapa kali mendaki Gunung Bismo. Ia pernah naik seorang diri sebanyak dua kali, sekali bersama kakaknya, dan sekali lagi bersama Idin.
“Biasanya cuma main ke sana, kepengin muncak,” katanya.
Meski mengetahui putranya pernah beberapa kali menuju Gunung Bismo, Turkini tidak pernah menyangka perjalanan kali ini berubah menjadi penantian panjang bagi keluarga.
Di tengah rasa cemas yang terus menghampiri, ia mengaku sempat mengalami pengalaman yang sulit dijelaskan. Turkini mengatakan belum pernah bermimpi bertemu putranya. Namun, pada suatu malam ia merasa seperti mendengar pintu rumah dibuka.
“Kemarin malam rasanya saya ada der kayak bukak pintu, kayak ada dia di rumah, mungkin perasaan saya saja,” ucapnya.
Perasaan itu membuatnya semakin berharap Apin segera pulang. Harapan sederhana terus ia panjatkan setiap hari.
“Harapan saya cepat ketemu, cepat pulang, cepat sampai rumah,” tandasnya.
Keluarga Idin: “Enggak Ada Pamitan, Enggak Tahu Ke Mana”
Beberapa langkah dari rumah Turkini, keluarga Yufaidin atau Idin juga menjalani penantian yang sama.
Saat kami berkunjung, Solihin, ayah Idin tidak berada di rumah. Ia memilih bergabung bersama relawan dan tim SAR gabungan yang masih melakukan penyisiran di kawasan Gunung Bismo. Di rumah hanya tampak beberapa kerabat yang menemani keluarga.
Paman Idin, Sarko, mengatakan keponakannya terakhir berada di rumah pada Selasa (30/6/2026). Saat itu Idin pergi tanpa berpamitan kepada siapa pun.
“Enggak ada pamitan, enggak tahu ke mana,” ucapnya.
Keluarga baru mulai menyadari ada sesuatu yang tidak biasa ketika Idin tak kunjung pulang hingga waktu Magrib.
“Magrib kan belum pulang. Sempat kita cari ke arah sana, sampai besoknya juga belum pulang,” ujarnya.
Di tengah upaya pencarian, keluarga memperoleh informasi dari warga yang mengaku sempat melihat Apin dan Idin berjalan ke arah Gunung Bismo melalui jalur Desa Krinjing. Informasi itulah yang kemudian menjadi petunjuk awal bagi keluarga dan tim pencari untuk memusatkan pencarian di kawasan gunung tersebut.
Malam itu juga keluarga langsung berusaha melakukan pencarian secara mandiri. Namun hingga keesokan harinya, Idin belum juga ditemukan sehingga warga Desa Krinjing ikut membantu melakukan pencarian sebelum akhirnya operasi melibatkan tim SAR gabungan.
Idin dan Apin, Sahabat yang Selalu Bersama
Menurut Sarko, Idin dan Apin merupakan sahabat yang hampir selalu bersama.
“Memang sering bermain bersama berdua. Sering akrab banget. Kalau ke mana-mana selalu bareng,” ucapnya.
Sarko menggambarkan Idin sebagai anak yang pendiam dan lebih senang berada di rumah. Menurutnya, Idin tidak termasuk remaja yang sering bepergian atau bermain jauh.
“Pendiam, sangat baik. Enggak pernah ke mana-mana, selalu di rumah,” sebutnya.
Kalaupun keluar rumah, biasanya hanya bermain sepak bola atau menghadiri hiburan yang digelar di desa bersama teman-temannya.
Saat ini Idin baru akan memasuki kelas IX SMP. Kepergiannya menuju Gunung Bismo terjadi saat masa libur sekolah. Berbeda dengan Apin yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Bismo, Idin disebut baru pernah sekali menuju kawasan tersebut sebelum akhirnya kembali mendaki bersama Apin.
“Ya pernah mungkin satu kali. Ini mungkin yang kedua kali,” ucapnya.
Hal itulah yang membuat keluarga tidak menyangka Idin akan berada di gunung selama berhari-hari tanpa kabar.
Berangkat Tanpa Perlengkapan Memadai
Menurut Sarko, saat meninggalkan rumah, Idin tidak membawa perlengkapan yang lazim digunakan untuk mendaki gunung. Remaja berusia 15 tahun itu hanya membawa bekal seadanya berupa makanan ringan.
“Bawa sedikit paling kerupuk sama roti, cuma sedikit. Mungkin buat dimakan satu kali pun sudah habis,” ungkapnya.
Selain itu, Idin juga tidak mengenakan pakaian yang sesuai untuk perjalanan di kawasan pegunungan.
“Enggak bawa perlengkapan apa-apa. Kayaknya pakai celana pendek, pakai kaos pendek,” ucapnya.
Melihat perlengkapan yang dibawa, keluarga menduga Idin awalnya tidak berniat melakukan pendakian hingga ke puncak Gunung Bismo.
“Mungkin ya mau main lah. Cuma mungkin tersesat atau gimana, kita enggak tahu,” ujar Sarko.
Ia mengatakan, sebelum Idin pergi, keluarga sama sekali tidak merasakan firasat apa pun. Kekhawatiran baru muncul ketika waktu Magrib tiba dan Idin belum juga kembali ke rumah.
“Masih enggak ada firasat apa-apa. Setelah Magrib belum pulang, baru kita punya firasat buruk,” ucapnya.
Ayah Idin Ikut Langsung Mencari
Hingga hari keenam operasi pencarian, ayah Idin masih memilih bergabung bersama relawan dan tim SAR gabungan menyusuri lereng Gunung Bismo. Menurut Sarko, sebagai orang tua, ayah Idin ingin ikut mencari secara langsung dengan harapan dapat menemukan putranya.
“Ya mungkin karena bapaknya ke sana jadi ketemu kan. Kita juga enggak tahu,” lanjutnya.
Meski ratusan personel SAR gabungan telah diterjunkan, keluarga tetap berharap setiap upaya yang dilakukan dapat segera membuahkan hasil.
Di tengah penantian itu, keluarga hanya memiliki satu harapan, yakni Idin dan Apin dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.
“Semoga cepat ketemu. Harapannya tetap pulang utuh seperti pas keluarnya,” tandasnya.
Hingga Selasa (7/7/2026), operasi pencarian terhadap Arifin Nurohmat (18) dan Yufaidin (15) masih terus berlangsung. Tim SAR gabungan dari berbagai unsur terus menyisir kawasan Gunung Bismo, terutama di area Sidongkal yang diduga menjadi jejak terakhir kedua remaja tersebut.




