Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Jalan Baru Jengkol-Tlogo Wonosobo: Jalur Alternatif Wisata Sekaligus Nadi Pertanian Warga Garung
Wonosobo

Jalan Baru Jengkol-Tlogo Wonosobo: Jalur Alternatif Wisata Sekaligus Nadi Pertanian Warga Garung

Kendaraan roda empat melaju pelan di atas jalan beton yang membelah kawasan pertanian. Di kanan dan kiri, hamparan sayuran terbentang mengikuti kontur tanah perbukitan. Dari atas jembatan, aliran Sungai Serayu tampak tenang di bawahnya, sementara perbukitan hijau dan permukiman warga menyambut pandangan dari setiap tikungan.

Itulah gambaran Jalan Jengkol-Tlogo, akses baru yang kini menjadi salah satu jalur alternatif penting di kawasan wisata Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Jalan yang dulu hanya berupa jalur setapak sempit — bahkan sebagian masih berupa ladang — kini telah berubah menjadi infrastruktur berbeton sepanjang 1,2 kilometer yang dapat dilalui kendaraan roda empat, dilengkapi jembatan sepanjang 12 meter dengan total anggaran pembangunan mencapai Rp8 miliar.

Jalan Baru Jengkol-Tlogo Wonosobo: Jalur Alternatif Wisata Sekaligus Nadi Pertanian Warga Garung
Jalan Baru Jengkol-Tlogo Wonosobo: Jalur Alternatif Wisata Sekaligus Nadi Pertanian Warga Garung

Dari Jalan Setapak Menjadi Infrastruktur Vital

Bagi warga Desa Tlogo, perubahan ini terasa nyata dan sangat berarti. Selama bertahun-tahun, mobilitas warga hanya mengandalkan jalan setapak yang sempit dan hanya bisa dilalui sepeda motor. Kendaraan roda empat nyaris tidak punya ruang, terutama saat dibutuhkan untuk mengangkut hasil panen atau kebutuhan pertanian dalam jumlah besar.

Basirun Sugiarto, salah satu warga setempat, menyebut perubahan paling mendasar yang ia rasakan adalah soal aksesibilitas. “Yang tadinya ladang belum bisa pakai kendaraan roda empat sekarang bisa,” ungkapnya.

Kepala Dusun Tlogo, Ahmad Mahmudin, menambahkan bahwa jalan ini sejak awal memang dirancang sebagai jalur alternatif untuk mengurai kemacetan menuju kawasan wisata. “Yang tadinya hanya jalan setapak hanya dilalui motor sekarang bisa dilalui roda empat,” ucapnya.

Urai Kemacetan di Kawasan Wisata Wonosobo

Kawasan Garung merupakan wilayah wisata yang cukup ramai, terutama menjelang akhir pekan dan hari libur. Sebelum jalan ini hadir, kemacetan kerap terjadi karena jalan utama yang sempit tidak mampu menampung volume kendaraan wisatawan yang terus meningkat.

“Kalau hari-hari libur kita sering kena macet dari desa,” kata Basirun.

Dengan hadirnya Jalan Jengkol-Tlogo, arus kendaraan mulai terurai dan mobilitas menjadi lebih lancar. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, bahkan menyebut jalan ini sekaligus akan membuka akses lebih dekat menuju kawasan wisata Telaga Menjer.

Nadi Baru bagi Pertanian Desa

Di luar fungsi wisata, manfaat terbesar Jalan Jengkol-Tlogo justru dirasakan oleh para petani. Sebelumnya, distribusi pupuk dan pengangkutan hasil panen sayuran hanya mengandalkan sepeda motor sehingga harus dilakukan berkali-kali. Kini, kendaraan roda empat bisa langsung menjangkau lahan pertanian, memangkas waktu dan tenaga secara signifikan.

“Selain jalur wisata juga untuk jalur pertanian,” tegas Ahmad Mahmudin.

Kepala Desa Jengkol, Asrof, melihat jalan ini sebagai jawaban atas harapan lama masyarakat sekaligus pintu masuk bagi peningkatan ekonomi desa. “Itu jalan utama penghubung antara Desa Jengkol dan Tlogo,” ungkapnya. “Sekarang Insyaallah sudah mudah, gampang, aman, dan bisa dimanfaatkan warga.”

Lebih jauh, Asrof berharap masyarakat dapat memanfaatkan jalan baru ini untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, termasuk pembangunan rest area atau destinasi wisata baru yang digerakkan oleh warga sendiri. “Mudah-mudahan masyarakat punya inisiatif inovatif untuk memanfaatkan jalan itu untuk perekonomian warga,” harapnya.

Tantangan: Drainase, Penerangan, dan Risiko Longsor

Meski membawa banyak manfaat, Jalan Jengkol-Tlogo tidak luput dari sejumlah catatan penting. Basirun mengungkapkan masalah drainase yang masih perlu perhatian. Sebagian saluran air bersifat sementara dan mengalir ke lahan warga, yang berpotensi merugikan petani saat musim hujan tiba. Kebutuhan penerangan jalan pada malam hari juga menjadi perhatian warga mengingat panjangnya ruas jalan tersebut.

Tantangan lebih besar datang dari kondisi geografis Wonosobo itu sendiri. Kepala DPUPR Nurudin Ardiyanto mengingatkan bahwa sekitar 75 persen wilayah Kabupaten Wonosobo berada pada kategori rawan longsor sedang. Jalan Jengkol-Tlogo, seperti banyak infrastruktur lain di Wonosobo, tidak luput dari risiko tersebut.

“Titik rawan tidak hanya di Jengkol-Tlogo, misalnya di Watumalang, titik-titik rawan longsor memang ada di wilayah kita,” ujarnya.

Peran Masyarakat Jadi Kunci Keberlanjutan

Pemerintah daerah menegaskan bahwa keberlanjutan infrastruktur ini tidak bisa hanya bertumpu pada intervensi teknis semata. Peran aktif masyarakat, terutama dalam menjaga saluran air tetap bersih dan berfungsi, menjadi faktor penentu umur panjang jalan tersebut.

“Kami titip saluran-saluran, karena saluran mampet yang menyebabkan terjadinya longsor,” tegas Adin. Ia mendorong warga untuk rutin melakukan kerja bakti membersihkan saluran yang tersumbat, dan segera melapor jika ada kondisi yang membutuhkan penanganan lebih besar. “Kalau sudah tidak bisa dilakukan secara masyarakat harus butuh tenaga yang banyak, tenaga peralatan kami siap,” tambahnya.

Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Jalan Jengkol-Tlogo diharapkan tidak hanya berfungsi dalam jangka pendek, tetapi menjadi infrastruktur yang bertahan lama dan terus memberikan manfaat nyata — baik bagi wisatawan yang melintas maupun bagi petani yang setiap hari menggantungkan penghidupan di sepanjang jalan tersebut.

error: Content is protected !!