Wonosobo News

Berita Terkini dan Hiburan Wonosobo

ADVERTISEMENT

728 x 90

ADVERTISEMENT

728 x 90

Gunung Bismo tempat hilangnya afin idin
Wonosobo

Metode “Detection” Wanadri Kembali Terbukti, Bongkar Misteri Hilangnya Dua Remaja di Gunung Bismo

 Di tengah keputusasaan yang menyelimuti pencarian dua remaja hilang di Gunung Bismo, secercah harapan datang dari sebuah metode yang tidak lazim. Ketika operasi pencarian resmi (SAR) dinyatakan berakhir tanpa hasil, Tim Wanadri (Wana Wisata) tetap bertahan. Mereka tidak lagi mengandalkan penyisiran massal, melainkan sebuah pendekatan psikologis dan taktis yang mereka sebut sebagai “pelacakan” atau detection.

Tim Wanadri
Tim Wanadri

Kunci dari keberhasilan ini terletak pada penggalian informasi dari orang-orang terdekat korban. Bukan sekadar data teknis, namun hingga ke relung-relung keinginan dan kebiasaan sang survivor.

“Survivor atas nama Afin, punya keinginan main ke Curug Telu. Kami dalami informasi itu,” ungkap Koordinator relawan Wanadri, Kusnandar Badawi (W 648 BARA), yang turut terlibat dalam pencarian Arifin Nurohmat (18) dan Yufaidin (15).

Badawi menjelaskan bahwa metode ini adalah pengembangan dari operasi SAR sebelumnya. “Kita pelajari perilaku, sifat, dan kebiasaan survivor,” ujarnya. Informasi yang terkumpul kemudian dianalisis secara mendalam untuk menjadi acuan pergerakan tim di lapangan. Metode ini terbukti jitu. Dalam dua misi SAR sebelumnya—pencarian Syafiq Ali (alm) di Gunung Slamet dan operasi SAR Mongkrang—pendekatan ini berhasil memberi titik terang arah keberadaan korban hingga akhirnya ditemukan.

Ketika Syafiq Ali hilang, tim Wanadri bahkan mendatangi rekan seperjalanannya, Himawan, hingga ke rumahnya di Magelang. Dari percakapan yang intens, terungkap detail posisi terakhir mereka sebelum terpisah. Hal serupa dilakukan saat SAR Mongkrang, di mana tim dengan telaten menghimpun keterangan dari ketiga kawan Yasid (alm) untuk melacak pergerakannya.

Pola rekonstruksi cerita dari sumber terdekat ini-lah yang kemudian membawa tim Wanadri ke titik kunci: Curug Telu. Pada hari Ahad (12/7/2026), upaya itu membuahkan hasil dengan ditemukannya jasad Arifin (Afin) dan Yufaidin (Idin) di dasar curug tersebut.

Flying Camp di Antara Kebun dan Hutan

Kondisi cuaca di sekitar Gunung Bismo saat itu cukup bersahabat. Langit cerah tanpa hujan, namun suhu udara sangat menggigit. Badawi mendengar kawasan lain di dataran tinggi Dieng bahkan mencapai minus lima derajat Celcius. Sementara di posko flying camp tim Wanadri yang berada di ketinggian 1.800 mdpl, suhu masih sekitar sepuluh derajat Celcius.

“Kondisi barudak Wanadri sehat, logistik aman. Penduduk penuh perhatian mengirim ransum dari dapur umum di balai desa. Termasuk tembakau,” tutur Badawi dengan nada lega.

Posisi flying camp ini sangat strategis. Terletak di ujung jalur batas kebun dan hutan yang ditandai patok Perhutani, lokasi ini mudah diakses dengan sepeda motor. Jalur tanah yang biasa dilalui petani untuk mengangkut sayur ini menjadi pintu masuk utama tim. Keunggulannya, jika ada hal mendesak, bantuan kendaraan dapat segera dihadirkan. Sinyal ponsel dan jaringan radio handy talkie pun tergolong bagus.

“Ibu kota berada di sini. Saya siaga relay radio, menerima laporan dari tim pencari, dan mengabarkan kepada Basarnas andai ada temuan,” jelas Badawi, yang juga merupakan anggota Wanadri angkatan Bayu Rawa (1990).

Penyusuran Kali Preng dan Temuan “Botol Kosong”

Giat SAR Afin dan Idin kali ini sebagian besar dijalankan oleh anggota muda Wanadri angkatan terbaru, Badai Kabut, yang baru lulus pendidikan dasar akhir tahun 2025. Salah satunya adalah Fajar Alfarizi, seorang pemuda lajang berusia 20 tahun.

Saat ditemui di sekretariat Wanadri Perwakilan Jakarta (WPJ), Fajar baru saja menyelesaikan laporan operasi. Di lapangan, mereka dibersamai oleh senior angkatan Topan Rawa (1989), Yemo Lengkong Wakulu (W 638 TORA).

“Kami bergerak pukul tujuh. Sengaja lebih pagi, mau memastikan area Kali Preng belum disapu relawan lain. Kami selidiki adakah tanda bekas pencarian sebelumnya. Ternyata clear, kami lanjut ke hulu,” kenang Fajar.

Berangkat dari flying camp di dekat gubuk Pak Sutar, Fajar dan tujuh rekannya mengikuti jalan setapak sejauh 250 meter menuju dasar kali. Vegetasi didominasi pakis andam dan belukar, namun di sekitar sungai mulai banyak pepohonan.

Mereka melintasi Curug Tarung yang sedang kering dan merayapi medan terjal berbatu. Setelah menempuh setengah kilometer dan waktu menunjukkan jam makan siang, tim beristirahat sejenak. Mereka menyantap bekal masing-masing dan tak lupa menyeduh kopi instan dari air sungai.

Badawi telah memberi instruksi tegas: pergerakan tim hari itu hanya sampai pukul tiga sore. Apapun hasilnya, mereka wajib kembali ke flying camp. “Target kami tidak lagi koordinat di peta, tapi waktu. Perjalanannya jauh, jangan kemalaman saat kembali,” tegasnya.

Setelah istirahat, mereka melanjutkan pelacakan. Seratus meter dari lokasi istirahat, medan berubah. Ada lorong sungai yang di atasnya bertengger batu sebesar gajah, terjepit di antara tebing. Air mengalir deras meski debitnya kecil. Ini adalah area Curug Telu. Tim Wanadri harus melakukan scrambling untuk melewatinya.

Jalur kian menyempit dan rimbun. Sepuluh meter berikutnya, Fajar yang berada di posisi terdepan mencium bau menyengat. Awalnya mereka mengira itu bangkai ikan. Hingga sampai di sebuah undakan, pemandangan mengerikan terhampar. Dua jasad manusia tergeletak.

“Satu tertelungkup, lainnya tersandar ke tebing. Kulit kaki keduanya mengelupas,” tutur Fajar dengan suara lirih.

Petugas radio segera mengabari Badawi. “Botol kosong” – sandi khas Wanadri untuk menyebut survivor yang telah meninggal – ditemukan pukul 13.45 WIB.

Survivor yang tertelungkup teridentifikasi sebagai Idin. Tas sekolahnya masih tersandang di punggung. Sementara Afin, yang mengenakan kaus biru, tergeletak tidak jauh dari sana. Keduanya masih bercelana pendek, sementara topi dan sandal mereka berserakan di sekitar lokasi.

Badawi menyimpulkan bahwa kejadian ini murni insiden jatuh, bukan orang tersasar. “Kalau pendaki nyasar, biasa ada ceceran barang yang dibawanya,” jelasnya.

Di atas titik penemuan, terlihat bekas perosokan yang membuat belukar tercabut dan berserak. Jarak dari atas curug ke bawah diperkirakan sekitar 25 meter. “Keduanya berusaha menggenggam tanaman liar di permukaan tebing, berharap selamat. Tapi pastinya meluncur cepat dari atas,” analisis Fajar.

Evakuasi di Tengah Bahaya Longsor

Menjelang penemuan, tim dari Silandak (base camp selatan Gunung Bismo) juga terlihat mendekat dari jalur di tengah hutan. Mereka melewati setapak bekas pembuat arang yang tertutup semak. Dari sisi atas curug, mereka menemukan uang kertas lima ribu yang diduga milik survivor.

Yang membuat tim Wanadri waspada adalah aksi tim Silandak yang nekat melompati tebing Curug Telu. Selain membahayakan keselamatan, aksi itu memicu longsoran tanah dan batu yang bisa mencelakai tim di bawah.

“Saya dikontek, diingatkan supaya jangan ada yang turun dari atas. Bisa mencelakai tim di bawah,” cerocos Badawi. “Pakis andam di tepian curug sampai botak, habis. Merosot ke bawah!”

Basarnas dan warga tiba di lokasi menjelang magrib. Kedua jenazah dimasukkan ke dalam kantong mayat berwarna kuning dan oranye. Relawan menggotongnya menggunakan batang kayu yang diikat webing.

“Harusnya pakai tandu basket, tapi yang datang kantong jenazah. Ya sudah, daripada menunggu lama lagi,” sahut Badawi.

Seluruh tim meninggalkan titik penemuan pukul 18.30. Mereka bergerak ke hilir dan tertahan lama di area Curug Tarung karena medan yang curam. Butuh waktu dua jam bagi tim untuk menembus jalur tersebut.

Pada pukul 22.00 WIB, rombongan tiba di kampung wisata Sembrani, Desa Krinjing. Ambulans dan tenaga medis telah bersiaga. Pemeriksaan awal mengonfirmasi bahwa kedua korban mengalami patah tulang kaki, tangan, serta luka kepala terbuka.

Belantara Bismo, Paru-paru Jawa Tengah

Badawi mengungkapkan bahwa kawasan selatan Gunung Bismo adalah hutan lebat dengan banyak lembahan dan patahan yang berbahaya. “Belantara selatan Bismo merupakan ‘paru-paru’ Jawa Tengah. Ini sumber oksigen berharga. Jangan sampai dirusak,” tegas lelaki yang selalu mengenakan topi koboi itu.

Ia juga mengoreksi istilah yang kerap digunakan media. Menurutnya, operasi yang dilakukan timnya bukanlah “penyisiran”, melainkan “pelacakan” (detection) karena tim mengikuti jalan setapak dan aliran sungai.

Pada misi kali ini, Wanadri menerjunkan 13 personel dengan perlengkapan utama dua rol tali kermantel statis sepanjang 150 meter dan empat lembar peta rupabumi Indonesia skala 1:25.000 keluaran Badan Informasi Geospasial (BIG). “Peta kami sambung manual, demi melihat topografi utuh pegunungan Bismo,” jelasnya.

Mendiang Afin dan Idin adalah dua sahabat sejati. Warga Desa Krinjing ini kerap mendaki Bismo lewat setapak di kampung halaman mereka. Hingga akhir hayat, mereka bersahabat, dan belantara gunung yang mereka cintai menjadi sakini bisu atas perjalanan terakhir mereka.

 

Sumber Artikel dan Gambar: Dokumentasi Pribadi Wanadri

error: Content is protected !!